Pemerintahan 02 Aug 2025

Penilaian Silpakara Nugraha Kecamatan Melaya 2025

A

Oleh Administrator

4 Menit Baca
1 kali dilihat
Penilaian Silpakara Nugraha Kecamatan Melaya 2025

"Penilaian pada hari Jumat 1 Agustus 2024 berlokasi di Lingkungan Asih Timur Kelurahan Gilimanuk Kecamatan Melaya, RELA (Ruang Edukasi Lingkungan Alam) merupakan salah satu kelompok bergerak pada Bidan..."

Penilaian pada hari Jumat 1 Agustus 2024 berlokasi di Lingkungan Asih Timur Kelurahan Gilimanuk Kecamatan Melaya, RELA (Ruang Edukasi Lingkungan Alam) merupakan salah satu kelompok bergerak pada Bidang usaha yang dilakukan yaitu program konservasi lingkungan dan pelestarian Burung Curik Bali di alam di luar Kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), dengan skema Program Edukasi yang melibatkan siswa dan Masyarakat khususnya generasi muda. Program Edukasi yang dilakukan oleh RELA diawali dengan tahapan menyusun modul ajar berupa Buku Pendidikan Lingkungan (DIKLING) bagi siswa sekolah Tingkat dasar/Madrasah Ibtidaiyah yang terintegrasi dengan Kurikulum Pendidikan dan berkesuaian dengan P5 (Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila) serta menghadirkan lokasi edukasi di tengah pemukiman masyarakat secara langsung. memperkenalkan sebuah model pendekatan baru bahwa Rumah Masyarakat dapat menjadi ruang belajar sekaligus sebagai tempat praktek lapangan bagi siswa di luar sekolah.

Modul Buku DIKLING berhasil menjadi Kurikulum muatan local pada beberapa sekolah, materinya terdiri dari teori dan praktik, dengan topik antara lain tentang : satwa sebagai ciptaan Tuhan, mengenal Curik Bali, mengenal dan mengelola sampah sebagai sampah padat/cair organik, mengenal jenis-jenis tanaman dan cara menanam, seperti : tanaman obat-obatan keluarga (toga), sayuran sebagai tanaman ketahanan pangan, dan cara teknis menanam tanaman sebagai pakan satwa liar khususnya burung Curik Bali. Rumah Masyarakat bisa menjadi ruang belajar yang nyaman sekaligus tempat praktek lapangan bagi siswa dan Masyarakat dalam mencintai dan peduli lingkungan alam merupakan perpaduan antara ilmu, ketrampilan dan pengalaman yang dimiliki oleh Masyarakat yang bersifat teori kemudian diterapkan dan praktek langsung, selanjutnya akan mengubah kebiasaan dan akan menjadi sebuah kebiasaan baru bagi warga sebagai pelaku dan akhirnya terjadi proses kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya melestarikan lingkungan dan pemanfaatannya secara optimal. Terjadinya kesadaran warga dalam memanfaatkan lahan pekarangannya untuk ditanami bebagai macam tanamanan dan menggabungkan dengan budidaya ternak unggas sebagai penghasil pupuk kompos organik alami, sehingga tercipta Gerakan Masyarakat sehat, tercipta lapangan pekerjaaan secara mandiri dan perekonomian desa semakin kuat dan berkelanjutan. Sekaligus menambah kepedulian Masyarakat terhadap keberadaan satwa liar khususnya burung Curik Bali yang saat ini banyak terlihat terbang bebas di alam sekitar pemukiman mereka.

Intervensi inovatif diperlukan agar mereka dapat memenuhi kebutuhannya dengan menggarap sumber pendapatan lain yang ramah lingkungan antara lain upaya untuk melestarikan Curik Bali (Jalak Bali, Leucopsar rothschildi), burung endemik di daerah Bali Barat yang terdaftar dalam Buku Data Merah IUCN sebagai spesies terancam punah (Critically Endangered). Warga desa membutuhkan sarana inovatif untuk meningkatkan mata pencaharian mereka yang tidak merusak atau menghambat lingkungan alam di sekitar mereka. Perlu juga untuk mendorong inisiatif warga desa untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan perlindungan Curik Bali dan rehabilitasi habitat di wilayah desanya. Mengingat mayoritas penduduk di desa adalah generasi muda, sangat penting untuk mengedukasi generasi muda dan menjadikan mereka pelopor pelestarian alam dan peningkatan mata pencaharian. upaya pelestarian Curik Bali bisa menjadi salah satu daya tarik wisata yang unik, pariwisata berbasis konservasi, berbasis ecotourism dapat terus diperkuat untuk menjadi daya tarik wisata. Perekonomian desa berkembang karena desa menjadi tempat rujukan turis untuk melakukan wisata dan sekaligus edukasi terkait konservasi Curik Bali dan satwa liar lainnya dan pelestarian lingkungan berbasis pada pengalaman Masyarakat dengan pendekatan dari hulu ke hilir sehingga menciptakan suatu siklus ekonomi mandiri dan berkelanjutan yang bertumpu pada pengalaman dan potensi desa seperti wisata kuliner Betutu, Gilimanuk sebagai pintu masuk Pulau Bali, Bali bagian Barat sebagai habitat asli Curik Bali, dan kegiatan pengalaman Masyarakat yaitu menanam, beternak, pengelolaan limbah sampah rumah tangga menjadi pupuk organik untuk media tanam, hasil panen sayur dan ternak unggas untuk bahan baku utama wisata kuliner yang dihasilkan langsung oleh masyarakat, wisata Curik Bali di pemukiman penduduk. Untuk itu diperlukan suatu kreatifitas dan inisiatif untuk merintis sumber pendapatan baru dengan mengoptimalkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Salah satunya adalah pariwisata alam (ekowisata) dengan mengambil seting desa dan utamanya untuk mengoptimalkan peran dan fungsi dari generasi muda. (GNP Pungky Subawa, S.Kom)