Pemerintahan 15 Sep 2026

Jembrana Integrated Energy System (JIES) dan Layanan Transportasi Terintegrasi Jembrana

A

Oleh Administrator

9 Menit Baca
46 kali dilihat
Jembrana Integrated Energy System (JIES) dan Layanan Transportasi Terintegrasi Jembrana

"Pengintegrasian pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan transportasi listrik dalam satu ekosistem pembangunan daerah"

Dalam rangka mendukung pengembangan konsep pengelolaan sampah menjadi sistem energi daerah yang memberikan manfaat bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial, Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Jembrana menyelenggarakan rapat pembahasan konsep gagasan Jembrana Integrated Energy System (JIES) dan Layanan Transportasi Terintegrasi. Konsep tersebut diarahkan pada pengintegrasian pengelolaan sampah, energi terbarukan, dan transportasi listrik dalam satu ekosistem pembangunan daerah.

Rapat dilaksanakan pada Senin, 14 September 2026, bertempat di Ruang Rapat Jimbarwana Lantai II, Kantor Bupati Jembrana. Rapat dihadiri oleh unsur perangkat daerah terkait, Kepolisian Resort Jembrana, tenaga ahli Pemerintah Kabupaten Jembrana, serta para kepala satuan pendidikan tingkat SMP, SMA, SMK, dan MA di Kabupaten Jembrana beserta Fungsional BRIDA Jembrana.

Rapat dibuka oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Jembrana. Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. drg. I Gede Winasa selaku Staf Khusus Bupati Jembrana Bidang Politik, Hukum, dan Pemerintahan hadir sebagai narasumber untuk menyampaikan konsep dan gagasan JIES. Selain itu, I Komang Adiyasa, S.H., M.A.P. selaku Tenaga Ahli Pemerintah Kabupaten Jembrana Bidang Sosial, Adat, Budaya dan Tradisi turut memberikan pandangan dalam pembahasan.

Pelaksanaan rapat dimaksudkan untuk memperoleh masukan dari para pemangku kepentingan, khususnya unsur pendidikan, perangkat daerah, dan kepolisian, dalam rangka melengkapi konsep gagasan JIES serta merumuskan langkah yang diperlukan untuk mendukung penerapannya di Kabupaten Jembrana.

Pembahasan rapat berfokus pada gagasan Jembrana Integrated Energy System (JIES) dan keterkaitannya dengan layanan transportasi terintegrasi, khususnya bagi pelajar. Gagasan tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan pengelolaan sampah, pemanfaatan energi terbarukan, dan transportasi listrik dalam suatu ekosistem yang saling mendukung.

1.      Pengembangan Jembrana Integrated Energy System (JIES)

Disampaikan bahwa permasalahan sampah di Kabupaten Jembrana perlu dipandang sebagai persoalan sekaligus potensi sumber daya. Sampah yang selama ini menjadi beban pengelolaan diharapkan dapat diolah menjadi sumber energi melalui teknologi pengolahan sampah dan pemanfaatan energi yang dihasilkan. Dalam konsep JIES, energi dari pengolahan sampah tersebut selanjutnya diintegrasikan dengan energi surya sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan energi juga diarahkan untuk mendukung penerangan jalan umum (PJU), kebutuhan energi rumah tangga, fasilitas pemerintahan, serta transportasi umum berbasis listrik. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem energi dan pelayanan publik yang lebih terintegrasi.

 2.      Pemanfaatan Energi Surya dan Energi dari Sampah

Salah satu gagasan yang dibahas adalah pemanfaatan atap Kantor Bupati Jembrana dan kantor-kantor pemerintah di sekitarnya sebagai lokasi pemasangan panel tenaga surya. Energi yang dihasilkan akan dikombinasikan dengan energi dari pengolahan sampah untuk mendukung kebutuhan energi dalam sistem JIES. Pemanfaatan energi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi daerah dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Energi yang dihasilkan tidak diarahkan semata-mata sebagai komoditas untuk diperjualbelikan, tetapi terutama untuk mendukung kebutuhan pelayanan dan kepentingan masyarakat.

 3.      Pengembangan Transportasi Terintegrasi bagi Pelajar

JIES juga dikaitkan dengan pengembangan layanan transportasi umum berbasis listrik bagi siswa SMP dan SMA/SMK. Konsep ini diarahkan untuk menyediakan layanan antar-jemput siswa menggunakan bus, mikrobus, atau moda transportasi umum lainnya sehingga penggunaan kendaraan pribadi oleh pelajar dapat dikurangi. Selain memberikan kemudahan bagi orang tua, sistem tersebut diharapkan dapat mengurangi beban biaya transportasi, kepadatan lalu lintas, serta risiko keselamatan siswa dalam perjalanan menuju dan pulang dari sekolah. Dalam konsep awal yang disampaikan, terdapat gambaran kontribusi bulanan orang tua sekitar Rp150.000 untuk layanan transportasi siswa, namun besaran tersebut masih merupakan bagian dari gagasan awal dan memerlukan kajian lebih lanjut. Sekolah diharapkan turut berperan dalam penataan dan pengaturan layanan transportasi, termasuk membantu mengidentifikasi kebutuhan, rute, serta pengaturan siswa yang akan menggunakan layanan tersebut. Kolaborasi antara sekolah, pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait menjadi bagian penting dalam pelaksanaan konsep transportasi terintegrasi.

 4.      Keselamatan Pelajar dan Dukungan Kepolisian

Pihak Kepolisian menyampaikan dukungan terhadap gagasan transportasi terintegrasi, khususnya apabila dapat membantu mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar. Berdasarkan data yang disampaikan dalam rapat, selama Januari sampai dengan Agustus 2026 tercatat 409 kejadian kecelakaan lalu lintas di wilayah Jembrana dengan 56 korban meninggal dunia. Dari keseluruhan kejadian tersebut, disebutkan terdapat sekitar 25% yang melibatkan lingkungan sekolah/pelajar. Kondisi tersebut memperkuat pentingnya upaya pencegahan kecelakaan melalui pengaturan transportasi pelajar. Penggunaan transportasi umum diharapkan dapat mengurangi penggunaan sepeda motor oleh pelajar sekaligus meningkatkan kedisiplinan dan keselamatan dalam perjalanan. Pihak Kepolisian juga menyatakan kesediaan untuk memberikan masukan dan mendukung pelaksanaan program sesuai dengan tugas dan kewenangannya, terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan ketertiban lalu lintas.

 5.      Pengelolaan Sampah dan Perubahan Perilaku Masyarakat

Dalam pembahasan ditegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada ketersediaan teknologi, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah perlu dimulai sejak lingkungan sekolah. Sekolah diharapkan dapat membiasakan siswa untuk melakukan pemilahan minimal antara sampah organik dan anorganik. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat terbawa ke lingkungan keluarga dan masyarakat sehingga terbentuk pola pengelolaan sampah yang lebih baik dari sumbernya. Disampaikan pula bahwa kapasitas pengolahan sampah yang tersedia saat ini belum sebanding dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Dalam rapat disebutkan kapasitas pengolahan berada di bawah 20 ton per hari, sedangkan timbulan sampah disebut mencapai sekitar 60 ton per hari. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya volume sampah yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Karena itu, pengembangan sistem pengelolaan sampah perlu dilakukan secara terintegrasi mulai dari pemilahan, pengumpulan, pengolahan, pemanfaatan hasil olahan, hingga dukungan teknologi dan sistem informasi.

6.      Integrasi Teknologi, Inovasi, dan Ekonomi Masyarakat

Rapat juga membahas pentingnya pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah dapat dikembangkan tidak hanya sebagai kegiatan pelayanan lingkungan, tetapi juga sebagai kegiatan yang memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat. Dicontohkan adanya pengelolaan sampah berbasis aplikasi di tingkat desa yang memungkinkan sampah memiliki nilai ekonomi dan transaksi dilakukan secara digital. Konsep tersebut dinilai dapat dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan masyarakat, sekolah, dan lembaga terkait. Dalam konteks pendidikan, siswa tidak hanya diarahkan menjadi pengguna program, tetapi juga diharapkan dapat menjadi sumber inovasi. SMP dan SMA/SMK diharapkan dapat menyiapkan siswa untuk menghasilkan berbagai inovasi yang dapat dikembangkan dan diikutsertakan dalam kompetisi tingkat provinsi maupun nasional. Inovasi yang dikembangkan tidak harus terbatas pada bidang persampahan, tetapi dapat mencakup berbagai persoalan yang dapat diselesaikan melalui kreativitas dan pemikiran siswa.

 7.      Kolaborasi dan Dukungan Lintas Sektor

Pelaksanaan JIES dan transportasi terintegrasi membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Sekolah, Dinas Pendidikan, Kepolisian, perangkat daerah terkait, pemerintah desa/kelurahan, masyarakat, serta pihak lain yang memiliki kompetensi dan sumber daya perlu mengambil peran sesuai tugas dan kewenangannya. Dalam rapat ditekankan bahwa dukungan yang diharapkan pada tahap awal tidak hanya berupa dukungan teknis maupun pembiayaan, tetapi juga dukungan moral, partisipasi, dan komitmen bersama agar gagasan dapat dikembangkan menjadi sistem yang dapat diterapkan di Kabupaten Jembrana.

  8.      Arah Pelaksanaan dan Tindak Lanjut

Gagasan yang disampaikan diarahkan untuk mulai dipersiapkan secara bertahap dengan target awal pelaksanaan pada tahun 2027. Tahapan awal yang disebutkan meliputi persiapan pengolahan sampah dan pengembangan layanan transportasi/bus. Untuk mendukung tahap tersebut, diperlukan penyusunan konsep dan bisnis proses yang lebih rinci, kajian teknis terhadap teknologi pengolahan sampah dan energi, perencanaan sistem transportasi pelajar, pemetaan kebutuhan sekolah dan rute, serta pembagian peran antarinstansi. Masukan dari sekolah dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk menyempurnakan konsep sebelum masuk ke tahap implementasi.

 Kesepakatan/Arah Utama Pembahasan:

  • Pengelolaan sampah perlu dikembangkan menjadi bagian dari sistem energi daerah melalui konsep JIES.

  • Energi dari pengolahan sampah dan energi surya diarahkan untuk mendukung kebutuhan pelayanan masyarakat, termasuk transportasi listrik dan PJU.

  • Transportasi terintegrasi bagi pelajar perlu dikaji sebagai upaya mengurangi penggunaan kendaraan pribadi serta meningkatkan keselamatan siswa.

  • Sekolah memiliki peran penting dalam edukasi pemilahan sampah dan perubahan perilaku siswa.

  • Pengembangan JIES membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.

  • Persiapan implementasi awal diarahkan mulai tahun 2027, dengan tetap memerlukan kajian dan penyiapan teknis lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pembahasan, konsep Jembrana Integrated Energy System (JIES) merupakan gagasan pengembangan sistem terintegrasi yang menghubungkan pengelolaan sampah, pemanfaatan energi terbarukan, dan layanan transportasi, khususnya bagi pelajar. Integrasi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat dalam mengatasi permasalahan sampah, menyediakan sumber energi alternatif, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi oleh siswa, meningkatkan keselamatan perjalanan, serta mengurangi kepadatan lalu lintas dan beban orang tua. Rapat juga menekankan pentingnya edukasi dan pembiasaan pemilahan sampah sejak lingkungan sekolah serta keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung perubahan perilaku masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan JIES memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, Kepolisian, pemerintah desa, masyarakat, dan pemangku kepentingan terkait.

Sebagai tindak lanjut, dilakukan penyempurnaan konsep JIES melalui kajian teknis dan penyusunan rencana implementasi, termasuk penyiapan konsep layanan transportasi terintegrasi bagi pelajar. Koordinasi dengan sekolah dan Dinas Pendidikan dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan penataan rute transportasi, sedangkan koordinasi dengan Kepolisian diarahkan pada aspek keselamatan dan kelancaran lalu lintas. Di sisi lain, edukasi pemilahan dan pengelolaan sampah serta pengembangan inovasi dan pemanfaatan teknologi di lingkungan sekolah perlu diperkuat sebagai bagian dari upaya perubahan perilaku dan pengembangan sumber daya manusia. Seluruh proses tersebut dikoordinasikan secara lintas sektor sebagai persiapan pelaksanaan awal JIES dan layanan transportasi terintegrasi yang diarahkan mulai tahun 2027.

Galeri Foto