Bali - Humas BRIN. Ketua DPRD Jembrana beserta jajarannya melakukan audiensi ke Kantor Kerja Bersama (KKB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka tindak lanjut pembentukan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jembrana.
"Ke depan kami ingin menggali potensi-potensi yang ada di Jembrana melalui riset yang komprehensif," hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutarmi saat melakukan audiensi pada Selasa (16/05).
Sutarmi menyatakan pembentukan BRIDA di Jembrana merupakan inisiasi dari wakil rakyat. Pembentukan BRIDA diharapkan dapat mengerahkan potensi Jembrana ke depan, tentunya dengan harapan badan ini akan diisi oleh orang-orang yang tepat agar fungsi dan tujuannya tercapai.
"Jembrana sudah memiliki Peraturan Daerah tentang pembentukan BRIDA, namun sampai saat ini SKPD yang sesuai belum berhasil terbentuk, oleh karena itu masukan dari BRIN sangat dibutuhkan untuk mewujudkan terbentuknya BRIDA tersebut," ungkap Sutarmi.
Sutarmi berharap dalam rangka mengoptimalkan potensi yang ada di Jembrana terkait penelitian situs purbakala, diharapkan para pengambil kebijakan dan instansi terkait di bawahnya perlu saling berkolaborasi apapun bentuknya. "Apapun konsepnya mudah-mudahan bisa bersinergi, dan dengan harapan situs-situs kami di Jembrana mendapatkan perhatian," harap Sutarmi.
Menurut Peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan Ida Bagus Putu Prajna Yogi, BRIDA merupakan konsep lembaga inisiatif yang bertujuan untuk menghasilkan kebijakan dan riset berbasis ilmiah yang terpercaya.
"BRIDA tidak harus sama seperti BRIN yang mana di dalam BRIN mencakup semua keilmuan karena melibatkan peneliti dari berbagai kementerian," jelas Yogi.
Yogi menambahkan, dalam pembentukan BRIDA, struktur dan komposisi lembaga disesuaikan dengan program dan kebijakan yang ditetapkan. "Sebagai lembaga inisiatif kebijakan berbasis ilmiah dalam pencanangan programnya disesuaikan dengan kepentingan kabupaten, hal ini melibatkan penentuan tema, prioritas, dan sasaran yang sesuai dengan kebutuhan daerah," beber Yogi.
Pada Kesempatan yang sama, Ketua Komisi satu DPRD Jembrana Ida Bagus Susrama menyampaikan bahwa Jembrana memiliki Museum Purbakala yang berpotensi untuk dapat dimanfaatkan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Kebetulan di Kabupaten Jembrana terdapat banyak situs purbakala yang masih ada hingga saat ini. Namun sayangnya hanya ada satu museum di Gilimanuk yang menampilkan artefak manusia purba," jelas Susrama.
Susrama menambahkan, terdapat juga beberapa situs purbakala di lokasi lain yang tersebar di wilayah Jembrana.
" Jadi, tidak hanya berbicara tentang situs-situs manusia purba, tetapi juga tentang apa yang harus diakukan dari segi lainnya. Kami percaya bahwa dengan dukungan dari para peneliti di BRIN, segala hal yang berkaitan dengan Kabupaten Jembrana dapat diangkat dan dikembangkan. Melalui penelitian yang tepat, kita dapat mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat diambil untuk memperbaikinya. Saya percaya bahwa perlu dilakukan penelitian untuk merancang program kegiatan yang tepat agar tidak salah arah," ungkapnya.
Pernyataan Susrama tentang banyaknya potensi yang dapat dikembangkan di daerah Jembrana didukung oleh Luh Suwita Utami Peneliti BRIN.
"Peneliti BRIN dapat melaksanakan penelitian yang sangat beragam terkait dengan penelitian arkeologi di Bali, dan salah satu yang memiliki potensi terbesar adalah Jembrana. Jembrana memiliki potensi arkeologi yang luar biasa, terutama dengan adanya situs Gilimanuk yang dapat dikatakan sebagai kawasan terbesar di Bali dan mungkin juga di Indonesia Timur dalam konteks mikropolis. Kawasan ini digunakan sebagai tempat tinggal dan aktivitas penguburan," tegasnya. (gws/yul/igp/ed.set)